Bolehkah Menyebut Orang Lain "Kecebong"? | Sebutan Dosa Yang Sudah Dipermaklumi - Suara Medan | Info Medan Terkini

Bolehkah Menyebut Orang Lain "Kecebong"? | Sebutan Dosa Yang Sudah Dipermaklumi

SUARAMEDAN.com -
Oleh :  Ahsanul Fuad Saragih, M.A -Penyinyir Sosial

Dari dulu sampai sekarang, abang selalu berusaha memanggil orang dengan nama sebenarnya. Kalau ada orang memanggil "black" (karena dia hitam) maka setidaknya abang panggil dia dengan panggilan "adinda" atau "abangda". Kalau ke mahasiswa, abang panggil "nak" atau "ananda". Ke ocik-ocik, abang panggil "ayang"๐Ÿคฃ๐Ÿ˜‚(yang ini kidding yaa...๐Ÿ˜‚)

Di dalam daftar nomor telepon yang ada di gadget abang, tidak ada satu namapun yang direcord kecuali ditulis dengan namanya secara lengkap. Boleh ambil sampling dari ribuan nama ke gadget abang๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Mungkin ini "warisan" dari ayah abang. Almarhum ayah tak jarang kalau memanggil abang dengan sebutan nama yang lengkap. Ahsanul Fuad -yang berarti "Hati Yang Sebaik-baiknya". Jika sebutan yang baik itu selalu disapakan dan diperdengarkan -selain itu menjadi doa dan harapan- hal baik yang selalu didengar akan menggerakkan sistem bawah sadar si penyapa untuk memilih sikap baik kepada  orang disapa (di satu sisi) dan yang disapa akan berupaya mengejar kebaikan yang sudah disematkan kepadanya.

Prinsip ini berlaku sebaliknya. Itu mengapa anda tidak memberi nama anak anda dengan nama Abu Jahal. Karena dibalik nama Abu Jahal tersebut terselip "ide" yang diprofiling sebagai hal yang buruk.

Zaman now banyak netizen menisbahkan orang lain dengan sebutan "kecebong", "IQ 200 satu kolam", "munafiq" dan sebutan gelar negatif yang lainnya.

Sedikit soal kata "munafiq". Kita hanya boleh membentangkan indikator -itupun indikator yang jelas-jelas ada dalam nash agama. Namun menuduh dan mengalamatkan kata "munafik" ke orang tertentu adalah sebuah kenaifan.

Mengapa naif ?
Kalau kita menjudge orang "munafiq", "kecebong" maka dia akan "mencari alamat" orangnya. Tidak jumpa di bumi, dia akan cari di langit. Kalau di bumi dan di langit tidak ketemu maka sebutan jelek itu akan kembali kepada orang yang mengujarkannya.

Itu mengapa abang sangat menghindari penyebutan istilah "kecebong" sekalipun kepada lawan politik abang. Abang takut melanggar larangan Alquran, seperti firmanNya :

 ูˆَู„َุง ุชَู„ْู…ِุฒُูˆุง ุฃَู†ْูُุณَูƒُู…ْ ูˆَู„َุง ุชَู†َุงุจَุฒُูˆุง ุจِุงู„ْุฃَู„ْู‚َุงุจِ ۖ

("...dan janganlah kalian mencela diri sendiri dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk")

-Surat Al-Hujurat, Ayat 11

Coba perhatikan ! Mengapa Allah menyebut mencela diri sendiri ? Sebabnya "kecebong-kecebong" yang anda nisbahkan ke saudara sesama muslimmu itu adalah bagian dari diri anda sendiri. Bukankah nabi saw mengatakan bahwa sesama muslim itu dilukiskan sebagai satu badan ?

Kalau begitu berhentilah menyebut orang lain dengan sebutan "kecebong" apalagi  tadi disebutkan bahwa Allah berfirman :

"Janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk"

Lebih dari itu, janganlah -kata Allah- kebencianmu kepada suatu kaum menyebabkan engkau tidak berlaku adil kepadanya.

Dengarkanlah ini, wahai kawan-kawanku yang cerdas. Sebab abang khawatir, kita melakukan dosa yang sudah dimaklumi sebagai "tidak lagi dosa". Jangan sampai nanti kita jadi kelompok orang yang muflis (bangkrut).

Subscribe to receive free email updates:

loading...

0 Response to "Bolehkah Menyebut Orang Lain "Kecebong"? | Sebutan Dosa Yang Sudah Dipermaklumi"

Post a Comment