Peci Diatas Kepala - Suara Medan | Info Medan Terkini

Peci Diatas Kepala

Peci Diatas Kepala
SUARAMEDAN.com - Sebenarnya, peci memiliki sejarah tersendiri sehingga menjadi salah satu ikon bangsa Indonesia sekaligus ikon kaum pergerakan. Peci juga lebih merakyat dan menjadi identitas bersama, baik oleh kaum santri maupun kaum nasionalis. Lain dengan kopiah, sorban, blangkon dan ikat kepala adat yang seolah menjadi sarana ekspresi yang sangat khusus dari golongan tertentu.

Dititik ini, peci memiliki nilai yang strategis dalam konteks dakwah. Karena pada umumnya, burung - burung yang bulunya sama akan bertengger didahan yang sama. Seragam yang sama, menandakan mereka berasal dari kesatuan dan batalion yang sama. Sedangkan perbedaan atribut (seragam, bendera, pataka dll) menandakan mereka berasal dari satuan yang berbeda.

Berawal dari kesamaan atribut, sungguh lebih mudah bagi kita untuk merujuk pada kesamaan pemikiran dan merajut kedekatan hati. Dengan mudah, mereka akan mengidentifikasi dan memposisikan diri sebagai "kawan" atau bahkan "lawan" hanya dari kesamaan atribut yang dipakai. Karena itu, para aktivis dakwah sebaiknya jangan senang mengekspresikan perbedaan atribut kepada objek dakwahnya.

Sulit dipungkiri, dari dahulu sampai sekarang, banyak dai yang memakai sorban, kopiah dan bahkan blangkon. Melihat perkembangan mutakhir, atribut tersebut pada akhirnya juga mengidentifikasi pemiliknya kepada manhaj dan metode dakwah yang bersifat khusus. Maksudnya, meski berstatus sama sebagai seorang dai, namun isi seruannya bisa sangat berbeda antara dai yang memakai sorban dengan dai yang memakai blangkon. Kadang - kadang malah saling menegasikan satu sama lainnya.

Pada akhirnya, peci memang tidak bisa merujuk pada keshalehan pemakainya. Peci dipakai oleh kaum santri hingga kaum abangan. Peci dipakai oleh para pejabat hingga para penjahat. Hal yang sama juga terjadi pada atribut lainnya. Ya ndak apa - apa, karena jika dilihat dari segi pakaian, kaum kafir Quraisy dengan Rasulullah memang hampir - hampir tidak ada bedanya.

Meskipun bersifat netral, namun asosiasi peci jelas lebih dekat kepada keshalehan pribadi, kebajikan umum dan kepatuhan terhadap nilai dan norma. Tantangan bagi para aktivis dakwah adalah melakukan proses rekayasa sosial, agar peci sebagai atribut yang sudah diterima secara luas oleh bangsa Indonesia, bisa memicu hadirnya keshalehan pribadi maupun keshalehan sosial bagi para pemakainya. Kaum nashrani mampu melakukan hal itu pada kayu salib. Semoga para dai nusantara juga mampu melakukannya juga pada peci. [sm]

Subscribe to receive free email updates:

loading...

0 Response to "Peci Diatas Kepala"

Post a Comment