SUARAMEDAN.com - Medan,- Sejarah perjalanan politik Kota Medan tidak pernah lepas dari cerita tentang tokoh-tokoh perempuan yang hadir, bekerja, dan ikut menentukan arah kebijakan publik. Di antara nama yang meninggalkan jejak adalah Hj. Djanius Djamin perempuan berdarah Minang asal Batusangkar yang pernah dipercaya menempati kursi pimpinan DPRD Kota Medan.
Hari ini, Selasa 1 September 2026, setelah 57 tahun kiprah Hj.Djanius Djamin, perempuan berdarah minangkabau kembali mencatatkan dirinya dalam sejarah parlemen Kota Medan. Hj.Sri Rezeki Sikumbang, A.Md politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) resmi menduduki kursi pimpinan DPRD Medan menggantikan kolega di partainya H.Rajudin Sagala.S.Pd.
'Bu Kiki' sapaan akrab perempuan berhijab ini tercatat sebagai anggota DPRD Medan Daerah Pemilihan 4 (Medan Area, Medan Kota, Medan Amplas) dan merupakan satu-satunya srikandi PKS di periode khidmat 2024-2029. Ia terpilih dengan perolehan suara 8.168 suara sah pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2024.
Istri mantan Anggota DPRD Medan 2009-2024 Dr.H.Juliandi Siregar,S.Pd, M.Si, ini merupakan kader senior PKS yang kariernya sudah malang melintang di struktur Partai Keadilan Sejahtera. Ia pernah menjabat Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga DPD PKS Medan periode 2015–2020, Ketua Bidang Kaderisasi DPD PKS Kota Medan kemudian Bendahara DPD PKS Kota Medan.
Kehadiran dua perempuan Minang bukan sekadar catatan dalam perjalanan lembaga legislatif. Lebih dari itu, menjadi gambaran bahwa ruang politik di Kota Medan sejak dahulu telah memberi tempat bagi perempuan untuk mengambil peran strategis dalam pemerintahan dan kehidupan masyarakat.
Nama Hj. Djanius Djamin dikenal dalam sejarah politik Kota Medan sebagai salah seorang perempuan yang berhasil menembus ruang elite legislatif. Kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk duduk di jajaran pimpinan DPRD Medan pada masa bakti 1969-1971, menunjukkan bahwa kemampuan perempuan dalam memimpin bukan sesuatu yang baru dalam dinamika politik kota ini.
Djanius Djamin hadir pada sebuah masa ketika keterlibatan perempuan dalam politik masih menghadapi berbagai tantangan. Namun, perjalanan politiknya membuktikan bahwa perempuan mampu berdiri sejajar, menyampaikan aspirasi masyarakat, sekaligus menjalankan tanggung jawab kelembagaan yang tidak ringan.
Kini jejak tersebut kemudian berlanjut melalui sosok Hj. Sri Rezeki. Perempuan Minang lainnya yang mendapat kepercayaan berada di kursi pimpinan DPRD Medan. Kehadirannya menjadi bagian dari kesinambungan sejarah keterwakilan perempuan dalam lembaga legislatif di Kota Medan.
Ada sesuatu yang menarik dari dua nama tersebut. Keduanya sama-sama membawa identitas perempuan Minang dalam panggung politik Medan-sebuah kota yang sejak lama menjadi ruang perjumpaan berbagai suku, budaya, dan latar belakang masyarakat.
Dalam tradisi masyarakat Minangkabau, perempuan memiliki posisi yang kuat dalam kehidupan sosial dan keluarga. Karena itu, ketika perempuan Minang tampil di ruang publik dan kemudian dipercaya menjadi bagian dari pimpinan lembaga legislatif, kehadiran tersebut seolah menjadi pertemuan antara nilai budaya dengan tuntutan zaman.
Namun, menjadi perempuan di kursi pimpinan DPRD tentu bukan sekadar persoalan identitas. Ada tanggung jawab besar yang melekat. Di balik meja pimpinan terdapat suara rakyat yang harus diperjuangkan, kepentingan daerah yang harus dikawal, serta keputusan-keputusan politik yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Djanius Djamin dan Sri Rezeki menunjukkan bahwa perjalanan perempuan dalam politik Medan memiliki sejarah yang panjang. Jauh sebelum isu keterwakilan perempuan menjadi pembahasan besar dalam politik nasional, Kota Medan telah mencatat perempuan yang dipercaya menempati posisi strategis di lembaga legislatif.
Kisah keduanya juga memperlihatkan bahwa politik tidak semata-mata milik kaum laki-laki. Perempuan memiliki kemampuan untuk bernegosiasi, membangun komunikasi politik, membaca persoalan masyarakat, serta mengambil keputusan dalam ruang-ruang kekuasaan.
Kini, ketika keterwakilan perempuan di parlemen terus menjadi perhatian, jejak Hj. Djanius Djamin dan Hj. Sri Rezeki layak kembali dilihat sebagai bagian dari sejarah politik Kota Medan.
Mereka bukan hanya dua nama dalam daftar perjalanan DPRD Medan. Mereka adalah bagian dari cerita tentang perempuan, politik, dan keberanian mengambil tanggung jawab publik.
Dari satu generasi ke generasi berikutnya, kursi pimpinan DPRD Medan menjadi saksi bahwa perempuan mampu hadir di pusat pengambilan keputusan.
Dan dari tanah Minangkabau, dua nama itu meninggalkan satu pesan penting: perempuan tidak hanya berada di belakang layar politik, tetapi juga mampu berdiri di depan, memimpin, dan membawa suara masyarakat ke ruang kekuasaan.


0 Response to "Hj. Djanius Djamin - Hj. Sri Rezeki, Perempuan Minang di Kursi Pimpinan DPRD Medan"
Post a Comment